Pengantar Ekonomi

Dalam kegiatan memproduksi, seorang pengusaha terlebih dahulu harus memperhatikan keadaan di pasar. Langkah ini mempunyai dua tujuan berikut:

  • Untuk menentukan barang apakah yang diinginkan oleh para konsumen. Peninjauan ini memberikan petunjuk kepadanya tentang jenis barang yang sebaiknya diproduksikannya.
  • Untuk menentukan besarnya tingkat produksi yang sebaiknya dicapai, yaitu tingkat produksi yang akan menghasilkan keuntungan maksimum kepadanya.

Kedua tujuan ini telah dianalisis dalam bab-bab yang terdahulu. An: permintaan dan penawaran akan menolong seorang produsen memper jawaban ke atas pertanyaan: barang apa yang sebaiknya diproduksi? Dan analisis mengenai struktur pasar, dan penentuan harga dan produksi di berbagai pasar, memberikan gambaran tentang bagaimana produsen akan menentukan tingkat produksi yang paling menguntungkan kepadanya.

Di dalam aspek ini pada hakikatnya seorang pengusaha harus menentukan berapa banyak modal, tenaga kerja, dan faktor produksi lainnya yang harus digunakan agar biaya produksi dapat diminimumkan. Persoalan tersebut akan dianalisis di dalam bab ini. Analisis tersebut akan dapat menunjukkan tentang:

  • Bagaimana harga berbagai faktor-faktor produksi ditentukan.
  • Syarat apa yang harus dipenuhi agar faktor-faktor produksi digunakan secara optimal di dalam kegiatan memproduksi.

PENTINGNYA ANALISIS PENENTUAN HARGA FAKTOR

Sedikit-sedikitnya terdapat dua alasan yang menyebabkan kebutuhan untuk menganalisis permintaan dan penawaran ke atas faktor-faktor produksi. Yang pertama, analisis tersebut akan menjelaskan prinsip untuk menggunakan dan mengalokasikan faktor-faktor produksi secara efisien. Yang kedua, analisis tersebut akan menjelaskan bagaimana pendapatan berbagai faktor produksi ditentukan.


PENGALOKASIAN FAKTOR PRODUKSI

Pentingnya pengalokasian faktor-faktor produksi yang efisien di dalam suatu perekonomian rasanya tidak perlu. Keinginan masyarakat adalah tidak terbatas, sedangkan sumber-sumber daya yang tersedia mempunyai kemampuan yang terbatas dalam menghasilkan barang-barang yang diingini tersebut. Tujuan ini akan tercapai apabila mereka dapat dialokasikan ke berbagai kegiatan ekonomi secara optimal, yaitu corak penggunaannya adalah sedemikian rupa sehingga produksi yang mereka ciptakan, mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang paling maksimum.

Di satu pihak, usaha tersebut adalah penting karena tindakan itu akan membantu tujuan keseluruhan perekonomian untuk mengalokasikan sumber-sumber daya secara efisien. Di lain pihak, usaha tersebut adalah perlu karena

keuntungan perusahaan tersebut dan adakalanya survival perusahaan tersebut, adalah tergantung kepada kemampuan perusahaan tersebut untuk menggunakan faktor-faktor produksi yang dapat diperolehnya secara efisien.

PENENTUAN PENDAPATAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

Pendapatan yang diperoleh masing-masing jenis produksi tersebut tergantung kepada harga dan jumlah masing-masing faktor produksi yang digunakan. Sebagai contoh, besarnya pendapatan dari sewa tergantung kepada luasnya tanah dan bangunan yang disewakan dan besarnya sewa yang diterima dari per unit tanah dan bangunan.

Jumlah pendapatan yang diperoleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu barang adalah sama dengan harga dari barang tersebut. Dengan demikian, di dalam suatu perusahaan, hasil penjualannya adalah merupakan jumlah dari seluruh pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam perusahaan tersebut. Oleh karena itu, pendapatan nasional yaitu nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang ada dalam negara tersebut – merupakan jumlah pendapatan berbagai faktor produksi yang ada dalam perekonomian. Di samping menunjukkan nilai agregat produksi nasional, pendapatan nasional menunjukkan pula jumlah pendapatan dari masing-masing faktor produksi yang ada dalam perekonomian, yaitu ia menunjukkan berapakah bagian dari pendapatan nasional yang diterima para pekerja, berapakah bagian yang berupa sewa, berpakah bagian yang berupa bunga, dan berapa pula bagian yang berupa keuntungan.

Bahwa analisis menngenai permintaan faktor-faktor produksi bukan saja akan (i) menjelaskan tentang penentuan harga-harga faktor produksi, tetapi juga (ii) menjelaskan tentang pendapatan dari masing-masing faktor produksi, dan (iii) distribusi pendapatan ke berbagai jenis faktor produksi. Atas dasar ini ahli-ahli ekonomi menamakan juga teori tentang penentuan harga faktor-faktor produksi sebagai teori distribusi.

TEORI PRODUKTIVITAS MARGINAL

Sesuatu faktor produksi akan menciptakan keuntungan yang paling maksimum apabila biaya produksi tambahan yang dibayarkan kepada faktor produksi itu sama dengan hasil penjualan tambahan yang diperoleh dari produksi tambahan yang diciptakan oleh faktor produksi tersebut.

MENENTUKAN JUMLAH FAKTOR PRODUKSI YANG DIGUNAKAN

Contoh perumusan ­seorang produsen sedang mempertimbangkan untuk menggunakan satu unit lagi tambahan faktor produksi tertentu, katakanlah tenaga kerja, dan untuk melaksanakannya is harus mengeluarkan biaya produksi tambahan (yaitu gaji tenaga kerja tersebut) sebanyak Rp 10.000. Apakah yang akan dilakukan oleh produsen tersebut sekiranya produksi tambahan yang diciptakan tenaga kerja menambah hasil penjualan sebanyak Rp 8.000? Sebanyak Rp 14.000? Atau sebanyak Rp 10.000?

Andaikata produsen memperoleh basil penjualan tambahan sebanyak Rp 8.000, keuntungan produsen itu akan berkurang sebanyak Rp 2.000 dan ini akan menyebabkan ia membatalkan rencananya. Sebaliknya, apabila ia memperoleh Rp 14.000, keuntungan produsen itu akan bertambah sebanyak Rp 4.000, dan menyebabkannya menggunakan tambahan faktor produksi tersebut. Sekiranya is hanya menerima basil penjualan tambahan sebanyak Rp 10.000 pengusaha tersebut dapat melakukan dua keputusan: membatalkan rencananya atau meneruskannya, dan kedua keputusan ini tidak mempengaruhi keuntungannya, tidak bertambab atau berkurang. Maka pada tingkat penggunaan faktor produksi tersebut produsen telah mencapai keuntungan yang maksimum. Apabila penggunaan faktor produksi terus ditambah keuntungan akan berkurang, dan apabila jumlah tenaga kerja yang digunakan dikurangi, juga keuntungan akan berkurang.

Setelah memahami bagaimana seorang pengusaha akan bertindak dalam menggunakan sesuatu faktor produksi agar keuntungannya dimak­simumkan, selanjutnya dapatlah diperhatikan sikap pengusaha tersebut dalam meminta (menggunakan) sesuatu faktor produksi. Analisis ini dinamakan teori permintaan terhadap faktor produksi. Di dalam menerangkan teori tersebut terlebih dahulu perlu dibuat beberapa pemisalan, yaitu seperti yang dinyatakan di bawah ini:

  • Perusahaan menjual barangnya dalam pasar persaingan sempurna, berarti harga barang tidak berubah walaupun jumlah yang dijual bertambah.
  • Hanya satu saja faktor produksi yang jumlah penggunaannya dapat diubah-ubah. Misalnya faktor produksi ini adalah tenaga kerja.
  • Perusahaan membeli faktor produksi yang dapat mengalami perubahan itu dalam pasar faktor produksi yang bersifat persaingan sempurna.

 

Berdasarkan pemisalan-pemisalan ini dalam Tabel 15.1 ditunjukkan hubungan di antara banyaknya faktor produksi yang digunakan dengan tambahan produksi dan tambahan basil penjualan.

 

TINGKA T PRODUKSI DAN HASIL PENIUALAN

 

Dalam kolom (1) dari Tabel 15.1 ditunjukkan berbagai jumlah produksi yang banyaknya dapat diubah sesuai dengan yang dipe Bagaimana jumlah faktor produksi yang berbeda tersebut mempengaruhi tingkat produksi ditunjukkan dalam kolom 4 d, Dalam kolom (2) ditunjukkan jumlah produksi fisik (TPP atau Physical Product) yang dihasilkan oleh berbagai jumlah tenaga Misalnya, 3 tenaga kerja menghasilkan 63 unit, dan 5 tenaga menghasilkan 90 unit. Kolom (3) menunjukkan pertambahan produk; diwujudkan oleh pertambahan satu unit tenaga kerja. Pertambahan prr tersebut dinamakan produksi fisik marginal (MPP yaitu dari Marginal Physical Product). Apabila tenaga kerja ditambah da menjadi 1, produksi bertambah dari nol menjadi 24 unit, maka produk marginal adalah 24 unit. Seterusnya apabila tenaga kerja ditambah sa sehingga menjadi 2, produksi bertambah dari 24 menjadi 45 unit, produksi fisik marginal adalah 21 unit. Banyaknya produksi fisik ml apabila tenaga kerja terus menerus ditambah sehingga menjadi 8 orang

dilihat pada kolom (3).

lHasil penjualan produksi total (TRP atau Total Rev Product), yang diperoleh dari mengalikan jumlah produksi dengan t ditunjukkan dalam kolom (54 Dalam contoh ini dimisalkan harga b

TABEL 15.1

Jumlah Peketja, Produksi dan Penjualan

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Jumlah pekerja

(L)

(1)

Produksi fisik

total (TPP) (2)

Produksi fisik

Harga

Hasil penjualan

Hasil penjual

marginal

barang

produksi total

produksi mart

(MPP)

(P)

(TRP=TPPxP)

(MRP=MPP)

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

(3)

(4

(5)

(6)

 

Rp5.000

Rp 0

0

24

5.000

120.000

120.000

21

5.000

225.000

105.000

18

5.000

315.000

90.000

15

5.000

390.000

75.000

12

5.000

450.000

60.000

9

5.000

495.000

45.000

6

5.000

525.000

30.000

3

5.000

540.000

15.000

0

5.000

540.000

0

———————————————————————————————

adalah Rp 5.000 seunit.lSedangkan kolom (6) menunjukkan .besarnya perubahan hasil penjualan sebagai akibat dari pertambahan produksi yang diakibatkan oleh kenaikan satu tenaga kerja yang digunakan. Perubahan basil penjualan tersebut :dinamakan hasil penjualan produksi marginal (MRP atau Marginal Revenue Product): Nilainya dapat dihitung dengaf dua cars. Yang pertama ialah secara mengalikan produksi fisik marginal dengan harga. Dan yang kedua adalah secara menentukan beda di antara hasil penjualan total dari produksi yang dihasilkan oleh scjumlah tenaga kerja tertentu misalnya sebanyak n dengan hasil penjualan total dari produksi yang dihasilkan apabila satu tenaga kerja dikurangi (atau ditambah), yaitu menjadi n-1 (atau menjadi n + 1)1 Sebagai contoh, dengan menggunakan 5 orang pekerja produksi mencapai 90 unit, dan hasil penjualan total berjumlah Rp 450 ribu. Andaikan jumlah tenaga kerja dikurangi satu orang sehingga hanya tinggal empat orang, produksi akan turun menjadi 78 unit dan menyebabkan kemerosotan basil penjualan total menjadi berjumlah Rp 390 ribu. Dengan demikian basil penjualan produksi marginal atau MRP untuk tenaga kerja kelima adalah: Rp 450 ribu kurang Rp 390 ribu sama dengan Rp 60 ribu. Nilai ini ditunjukkan dalam kolom (6).

Berdasarkan kepada angka-angka yang terdapat dalam Tabel 15.1, di dalam Gambar 15.1 ditunjukkan kurva produksi fisik total atau TPP (yang lebih lazim disebut sebagai fungsi produksi), kurva produksi fisik marginal (MPP), dan kurva basil penjualan produk i marginal (MRP). Dalam gambar (i) ditunjukkan kurva fungsi produksi, yang dibuat berdasarkan kepada angka-angka yang terdapat dalam kolom (1) dan (2) dari Tabel 15.1. Nyata kelihatan bahwa hukum hasil lebih yang semakin berkurang mempengaruhi fungsi produksi. Pengaruhnya tersebut dapat dilihat dari bentuk kurva tersebut yang kenaikannya semakin lama semakin kurang menanjak. Keadaan ini menggambarkan bahwa penambahan tenaga kerja yang terus menerus akan menambah produksi, tetapi pertambahan tersebut semakin lama semakin kecil.’ Rumusan yang baru dinyatakan, yaitu hukum basil lebih yang semakin berkurang mempengaruhi fungsi produksi, dapat dengan lebih nyata lagi dilihat dalam gambar (ii) yang menunjukkan bentuk kurva MPP yang menurun. Bentuk kurva MPP yang seperti itu meng­gambarkan bahwa tenaga kerja yang ditambahkan (tenaga– kerja yang berikut) kemampuan memproduksinya adalah lebih rendah daripada tenaga kerja yang sebelumnya. Kurva MPP tersebut dibuat berdasarkan angka-angka dalam kolom (3) dari Tabel 15.1. Kurva MRP, yaitu kurva yang menggam­barkan basil penjualan produk marginal, ditunjukkan dalam gambar (iii), dan dilukiskan berdasarkan angka-angka dalam kolom (6) dari Tabel 15.1.

GAMBAR 15.1 Kurva TPP, MPP dan MRP

TPP

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

MPP

100

80

60

40

20

KURVA TPP, MPP DAN MRP

L

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

(i) Kurva TPP

(ii) Kurva MPP

L

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

I

20 I

– – I

I

1 I I I I 1 I

2 4 6 8

(iii) Kurva MRP Jumlah buruh (unit)

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

L

JUMLAH FAKTOR PRODUKSI YANG DIGUNAKAN

 

Faktor-faktor Produksi

Telah diterangkan sebelum ini bahwa ditinjau dari sudut penggunaan faktor­faktor produksi, seorang produsen akan memaksimumkan keuntunganrip apabila melakukan kegiatan memproduksi sampai kepada tingkat di mana 17asil penjualan produksi marginal = harga faktor atau MRP = W, di mana W adalah harga faktor (dalam kasus ini W adalah upah tenaga kerja). Karen hasil penjualan produksi marginal telah diketahui nilainya, yaitu seperti dalam kolom (6) dari Tabel 15.1, dan digambarkan pada Gambar 15.1 (1i), maka tingkat produksi akan dapat ditentukan apabila diketahui harga faktor produksi (yaitu tenaga kerja) yang digunakan. Misalnya harga faktor produksi adalah Rp 30.000. Pada waktu perusahaan menggunakan 7 tenaga kerja, hasil penjualan marginal adalah Rp 30.000. Dengan demikian penggunaan tenaga kerja ke-7 ini tidak menambah keuntungan. Oleh sebab itu pengusaha tidak akan menggunakan tenaga kerja baru. Apabila is mengambil 8 pekerja, keuntungannya akan berkurang. Berarti, untuk memak­simumkan keuntungannya is akan menggunakan 7 pekerja.

Secara grafik penentuan jumlah faktor produksi (yaitu tenaga kerja) yang digunakan dapat dilakukan dengan menggunakan kurva MRP dan kurva W, yaitu kurva upah tenaga kerja. Kurva W menggambarkan biaya produksi marginal yang dibayarkan perusahaan untuk memperoleh satu unit tambahan faktor produksi (yaitu tenaga kerja). Maka kurva W dinamakan juga kurva biaya marginal faktor atau kurva MCF (Marginal Cost of Factor). Di samping itu kurva W dapat dipandang sebagai kurva penawaran tenaga kerja (faktor produksi). Penggunaan jumlah faktor produksi ditentukan oleh perpotongan kurva W dengan kurva MRP. Perpotongan tersebut adalah di titik E, dan menggambarkan bahwa harga faktor (biaya marginal faktor) = hasil penjualan produksi marginal atau W = MRP. Maka perpotongan kurva W dengan kurva MRP menentukan jumlah tenaga kerja yang harus digunakan untuk mencapai keuntungan yang maksimum. Gambar 15.2 dibuat berdasarkan pemisalan bahwa hasil penjualan produksi marginal adalah seperti ditunjukkan dalam Tabel 15.1, dan harga faktor (upah tenaga kerja) adalah Rp 30.000. Dengan pemisalan, ini keuntungan maksimum dicapai apabila tenaga kerja yang digunakan adalah 7 orang.

Bagaimanakah reaksi perusahaan di dalam menggunakan WIMP kerja apabila tingkat upah mengalami perubahan? Untuk memperoleh jawabannya misalkan upah tenaga kerja adalah RD 60.000 atau Rp 45.000 atau Rp 15.000. Sekiranya upah adalah Rp 60.000, berdasarkan kepada nilai hasil penjualan produksi marginal dalam Tabel 15.1 keuntungan maksimum akan dicapai apabila tenaga kerja yang digunakan adalah lima or Keadaan ini ditunjukkan oleh titik A. Sedangkan apabila upah adalah-Rp 45.000, keuntungan maksimum akan dicapai apabila enam tenaga kerja

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

digunakan, dan keadaan ini ditunjukkan oleh titik B. Akhirnya, sekira upah adalah Rp 15.000, keuntungan maksimum akan dicapai apa digunakan delapan tenaga “kerja, dan keadaan ini ditunjukkan oleh titik Titik-titik A, B, C, dan E terletak pada kurva MRP. Tetapi pada wa yang sama titik-titik tersebut menggambarkan hubungan di antara u; tenaga kerjadengan jumlah permintaan tenaga kerja. Ini berarti ku MRP dapat pula dipandang sebagai kurva permintaan tenaga ke (atau sesuatu faktor produksi lain sekiranya faktor produksi berlainan dari tenaga kerja). Sebagai akibat dari kesamaan ini kurva A1 dapat juga dinyatakan sebagai MRP = Df di mana Df dimaksudkan sebi permintaan tenaga kerja (atau faktor produksi) oleh suatu perusahaan y, akan memproduksikan barang.


Anda tentunya masih ingat bahwa uraian dalam bagian yang lalu men gunakan beberapa pemisalan. Pemisalan yang pertama adalah pasar bara adalah berbentuk pasar persaingan sempurna. Dalam uraian yang al dilakukan dalam bagian ini pemisalan tersebut akan digantikan deny


GAMBAR 15.2 .Penetuan Jumlah Faktor Produksi yang Digunakan


100


80


40


w


20


<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>


i


C MRP = D


MCF = SF


0


3


i


6 7 9 Jumlah pekerja


PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA DAN PERMINTAAN FAKTOR PRODUKSI







pemisalan berikut pasar barang adalah berbentuk pasar persaing tidak sempurna. Selanjutnya perhatikanlah pengaruh darn per pemisalan ini kepada permintaan ke atas faktor produksi, dan k


penggunaan tenaga kerja yang -I–­


memaksimumkan keen


perusahaan.


PERMINTAAN FAKTOR; CONTOHANGKA


Dalam pasar barang yang bersifat persaingan 6dak sempurna harLn akaq menjadi semakin rendah pada tingkat produksi/penjualan barang yang semakin tinggi Harga yang semakin rendah ins menyebabkan hh


.as pm,


jualan total dan hasil penjualan marginal pada setiap tingkat penggu tenaga kerja adalah lebih rendah dari yang terdapat dalam pasar persaingan sempurna. Angka-angka yang terdapat dalam Tabel 15.2 dengan jejas menunjukkan hal-hal yang baru saja dinyatakan. Angka-arigka jumlah tenagt kerja, jumlah produksi dan produksi fisik marginal yang terdapat dal= kolom (1), (2), dan (3) dalam Tabel 15.2 adalah sama dengan terdapat dalam Tabel 15.1. Dalam kolom (4) dari Tabel 15.2 harga’barai g mengalamn perubahan apabila jumlah produksinya berubah yaitu semakin banyak produksi semakin murah harga. Sedangkan dalam Tabel 15.1 hafja adalah tetap sebesar Rp 5000 Perbedaan inn rnenyebabkan = Tbs


..ama 15.2 basil penjualan produksi total dan basil penjualan produksi mar pada setiap jumlah tenaga kerja yang digunakan adalah lebih rendah dais yang terdapat dalam Tabel 1 ~:1.


Kolom (6)menunjukkan nilai MRP – yaitu hasil penjualan prods marginal, dan dihitung dengan menggunakan formula berikut:


MRP = TRP„ TRP,.,


Dengan menggunakan formula tersebut diperoleh Iiasil penghitun berikut:


Pekerja pertama hingga kelima masing-masing dan secara bertu


 


rhenghasilkan tambahan nilai penjualan berikut: (i) Rp 120 r’


 


(ii) Rp 96 ribu, (iii) RM 73,8 ribu, (iv) Rp 53,4 ribu, dan (v) Rp


 


ribu.


Semenjak pekerja ke-8 basil penjualan total merosot apa


 


dibandingkan dengan penjualan yang diperoleh dari penggun


 


tenaga kerja yang lebih rendah jumlahnya. Dengan kata lain, m


 


pekerja ke-8 nilai MRP negatif.


 


Untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang digunakan dimisalkan bat upah tenaga kerja adalah tetap sebesar Rp 30.000.


 


Angka-angka MRP dalam Tabel 15.2 menunjukkan apabila ten kerja kelima digunakan maka MRP = RM 34.800, berbanding dengan ul


 


 


sebanyak RM 30.000. Berard masih, menguntungkan untuk menggunan pekerja kelima. Akan tetapi pekerja keenam MRP-nya = Rp 18.000. Ber


 


 


hasil penjualan marginal kurang % dari upah. Dari keadaan ini da disimpulkan: Untuk memaksimumkan keuntungannya perusahs hanya perlu menggunakan 5 pekerja.


F


rABEL 15.2


lumlah Pekerja, Produksi fan Penjualan


GR4FIKPERMINTAANFAKTOR





























Jumlah


Jumlah produk fisik


Produk fisik


Harga


Hasil penjualan


pekerja


(TPP)


marginal


barang


. produk total


(L)


(2)


(MPP)


(P)


(TRP=TPPxP)


(1)


 


(3)


(4)


(5)


produk marginal (MRP=MPPxP) (6)

Hasil penjualan


0 24 45 63 78 90 99 105 108 108
























































Rp


In


Rp 0


0


24


5.000


120:000


120.000


21


4.800


216.000


96.000


18


4.600


289.000


73.800


15


4.400


343.000


53.400


12


4.200


378.000


34.800


9


4.000


396.000


18.000


6


3.800


399.000


3.000


3


3.600


388.800


-10200


0


3.400


367.000


-21.600


<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>


Di dalam Gambar15.3 dibuat perbandingan mengenai penenti penggunaan t& aga kerja apabila pasar barang adalah persaingan sempu dengan apabila pasar barang adalah pasar persaingan tidak sempurna.


Kurva MRP, = D1 adalah sama dengan kurva basil penjua produksi (marginal’ di dalam Gambar 15.2. Dengan demikian menggambarkan keadaan di mana dimisalkan pasar barang adalah pa pers ‘ kmpurna. Kurva MRP2 = D2 adalah hasil penjualan produ m apabila dnmisalkan pasar barang adalah pasar persaingan tic semp dan kurva tersebut dibuat berdasarkan kepada angka-and


n dalam Ta 15.2.


Dapat dilihat bahwa I kurva MRP2 terletak di sebelah kin ku: MRPi. Ini adalah keadaan yang sellu berlaku, yaitu: kurva hasil penjual produksi marginal di dalam pasar persaingan tidak sempurna ak selalu terletak di sebelah kin dari kurva hasil penjualan prod


ul


marginal di dalam persaingan sempurna. Keadaan itu disebabh karena pada tingkat penggunaan tenaga kerja yang lebih tinggi, harga bars menjadi lebih murah. Maka pada setiap tingkat penggunaan tenaga kei







tambahan hasil penjualan dalam apasa ersaingan tidak sempurna adalah lebih rendah dari yang diperoleh dalam pasar persaingan sempurnat,


permintaan terkait~ dan (ii) kurva permintaan terhadap faktor-faktor proc berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawaI4


GAMBAR 15.3


Permintaan Pekerja dalam Pasar Barang yang Berbeda


100


80


<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>


60


<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>


20


Apakah implikasi dari keadaar ini terhadap jumlah penggunaan tenaga kerja oleh perusahaan? Contoh a~gka telah menunjukkan apabila pasaran barang bersifat persaingan sempurna, 7 pekerja akan digunakan. Akan tetapi apabila pasaran barang adalah pasaran persaingan tak sempurna, hanya lima pekerja digunakan, apabila dimisalkan upah pekerja tetap Rp 30.000. Keadaan ini dengan jelas ditunjukkan dalam Gambar 15.3. Dalam pasar barang yang bersifat persaingan sempurna W = MRP dicapai di titik Eo. Keadaan keseimbangannya menunjukkan sebanyg1c 7 pekerja akan digunakan. Akan tetapi, apabila pasar barang bersifat pasaran persaingan tak sempurna, W = MRP dicapai pada Ei – yang berarti sebanyak 5 pekerja akan digunakan oleh perusahaan.


SIFAT PERMINTAAN TERHADAP FAKTOR PRODUKSI


Dalam menerangkan sifat-sifat permintaan terhadap faktor-faktor produksi dua ciri-cirinya akan diterangkan, yaitu (i) permintaan faktor adalah;,


<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>


PERMINTAAN TERKAIT



Seorang konsumen, apabila membeli barang atau’ jasa, melakukan h, untuk memenuhi kebutuhannya. Seorang konsumenl. membeli rr misalnya, supaya is dapat pergi ke kantor dengan mudah, dapat mcml keluarganya berjalan-jalan, dan dapat dengan mudah bepergian ke ber’ tempat apabila hal itu sewaktu-waktu diperlukan.


i Permintaan seorang pengusaha ke atas faktor-faktor pro, mempunyai sifat yang berbeda. Tujuan para_ pengusaha untuk mempc faktor-faktor produksi bukanlah unltik memenuhi kebutuhai Permintaan tersebut dipengaruhi oleh keinginan pengusaha . menghasilkan barang-barang yang akan dijualnya ke pasar untuk memf kebutuhan konsumen. Telah ditunjukkan bahwa kegiatan peng, memproduksi barang bertujuan untuk memperoleh keuntungan. i banyaknya faktor produksi yang akan’ digunakan pengusaha tergar kepada keuntungan yang mungkin diperolehnya. Selama pertamF penggunaan sesuatu faktor produlsi akan menambah keuntunga lebih banyak faktor produksi tersebut akan digunakannya. Oleh k permintaan pengusaha ke atas sesuatu faktor produksi ditentukan ‘kemampuan faktor produksi tersebut untuk menghasilkan barang yang dijual pengusaha itu dengan menguntungkan, permintaan faktor-f produksi dinamakan permintaan terkait atau derived demand.


BENTUK KURVA PERMINTAAN FA KTOR



Seperti juga` dengan permintaan konsumen ke atas sesuatu b. permintaa ,produsen ke atas sesuatu faktor produksi dapat ditinjau dai sudut, permintaan seorang produsen, dan permintaan seluruh pro, dalam sesuatu pasar faktor. Sifat permintaan seorang produsen dituuu’t kari dalam contoh-contoh di bagian yang terdahulu dari ba


,t Dapat dilihat bahwa kurva permintaan ke atas faktor produksi ber:


` rmenurun dari kin alas ke kanan bawab. Kurva seperti itu menggambarkan makin tinggi harga faktor produksi, makin sedikit permintaan ke alas faktor tensed


,permintaan pasar terhadap sesuatu faktor produksi meru jumlah dari permintaan seluruh produsen yang ada dalam pasar produksi tersebut.’y Oleh karena permintaan seorang produsen terl faktor produksi berbentuk menurun dari kiri atas ke kanan bawah, tentulah permintaan pasar (permintaan dari seluruh produsen) mempunyai sifat yang demikian juga. Ini berarti pula bahwa permintaan.



——————————————————————————-



pasar terhadap sesuatu faktor produksi sifatnya’adalah: apabila harga semakin tinggi, permintaannya akan menjadi semakin rendah.


Penjelasan yang barn saja dibuat di atas menunjukkan bai,,­permintaan ke atas ‘sesuatu faktor produksi mempunyai sifat yang saw dengan permintaan ke atas sesuatu barang. Akan tetapi sifat per rrrinta~.t kt atas’faktor produksi dan terhadap barang yang sangat bersamaan tersebut disebabkan oleh sebab yang berbeda. Anda tentunya masih ingat bahwa kurva permintaan terhadap sesuatu faktor pada umumnya menurun ke bawah karena O perubahan harga akan mengubah pendapatan nil perrbeli, dan perubahan pendapatan riil ini selanjutnya mempengaruhi permintaan_ nya, dan (ii) perubahan harga mengubah kepuasan relatif dad mengkon­sumsikan barang itu kalau dibandingkan dengan barang lain.,`,Permintaan ke atas sesuatu faktor produksi digambarkan oleh kurva yang menurun ke bawah disebabkan oleh tiga faktor berikut:


Hubungan yang berbalikan di antara harga faktor produksi dan permintaan barang.


Sifat subsritusi di antara satu faktor produksi dengan faktor produksi latnnya­


Hukum hasil lebih yang semakin berkurang.


Ketiga faktor tersebut diterangkan dengan lebih terperinci dalam uraian berikut.


 


Perubahan Harga Faktor ke Atas Permintaan Barang


Telah dijelaskan bahwa permintaan terhadap faktor produksi adalah permintaan terkait, yaitu permintaani ke atasnya tergantung kepada kemam­puannya menghasilkan barang yang `a’kan menguntungkan produsen. Apabila harga faktor produksi menjadi semakin tinggi, biaya produksi untuk menghasilkan barang tersebut juga semakin tinggi. Biaya produksi yang telah mengalami kenaikan itu akan menaikkan harga barang tersebut, dan menyebabkan jumlah barang yang terjual menjadi semakin sedikit Produsen harus mengurangi produksi, dan pengurangan produksi ini akan menurunkan jumlah faktor produksi yang digunakan. Dengan demikian kenaikan harga faktor produksi akan mengurangi jumlah faktor produksi yang.4igunakan.

 

Efek Penggantian

Andaikan harga sesuatu faktor produksi mengalami kenaikan sedangkan harga faktor-faktor lain tetap. Akibat dari keadaan ini penyesuaian akan berlaku di dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pada waktu harga faktor tersebut semakin tinggi, faktor-faktor produksi lain menjadi relatif lebih murah dan lebih menguntungkan apabila digunakan. Produsen ak2u mengurangi penggunaan faktor-faktor produksi yang mengalami kenaikan harga. Dengan demikian, semakin tinggi harga sesuatu faktor produksi

semakin sedikit permintaan terhadap faktor produksi tersebut, dan seba semakin rendah harga sesuatu faktor produksi semakin banyak pert annya.

 

Hukum hasil lebih yang semakin berkurang: ,

Kurva permintaan faktor produksi yang semakin menurun disebabkar oleh berlakunya hukum basil lebih yang semakin berkurang. diterangkan bahwa kurva MRP dapat pula dipandang scbagai permintaan ke atas faktor produksi. Kurva MRP, menurun dari kiri a kanan bawah karena kurva MPP, yang sangat mempengaruhi bentuk MRP adalah juga bersifat seperti itu. Dan kurva MPP berbentuk sepc karena dipengaruhi oleh hukum basil lebih yang semakin berkurang*.

PERGESERAN KURVA PERMINTAAN FAKTOR PRODUKSI

Terdapat beberapa faktor yang dapat menggeser kurva permintaan pro terhadap faktor-faktor produksi. Yang terpenting adalah

Perubahan permintaan ke atas barang yang diproduksikannya.

Perubahan harga faktor produksi lain yang digunakan.

Perubahan Permintaan Terhadap Barang yang Diproduksikan Faktor ini rasanya tidak perlu diuraikan lagi secara panjang lebar, karen-, diterangkan sebelum ini. Telahpun diuraikan bahwa karena perm terhadap faktor produksi merupakan permintaan terkait, perubahan permintaan terhadap sesuatu barang – yang menyebabkam perubahan jumlah produksi akan_ menimbulkan perubahan dalam permintaan l faktor produksi tersebut. Kenaikan permintaan sesuatu barang mend pengusaha uzituk menaikkan produksi, dan kenaikan produksi mcme lebih banyak faktor produksi. Sebaliknya, apabila permintaan sesuatu I berkurang, pengusaha terpaksa mengurangkan produksi dan pcrrr faktor produksi.

Perubahan Harga dari Faktor Produksi Lain yang Digunakan -Di dalam memproduksikan sesuatu barang digunakan beberapa produksi. Dan untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu, faktor produksi akan dikurangi penggunaannya apabila lebih banyak faktor produksi lain digunakan. Ada beberapa faktor yang menyel terjadinya perubahan ke atas faktor produksi lain yang digu Perubahan harga faktor produksi lain tersebut merupakan salal sebabnya yang penting. Sekiranya faktor produksi lain menjadi si murah, biaya produksi akan dapat diternnkan’ apabila mereka lebih digunakan. Ini akan mengurangi penggunaan faktor produksi yang h, tidak mengalami perubahan. Kenaikan produktivitas sesuatu faktor produksi.

——————————————————————————————-

lain juga dapat menyebabkan, faktor produksi itu lebih banyak diguna mengurangi penggunaan ke atas faktor produksi yang produktivitasnya tidak mengalami perubahan.! ,

ELASTISITAS PERMINTAAN DART BA RANG YANG DIHASIL/(AN­

Harga faktor produksi, seperti sudah anda sadari, merupakan sebagian da biaya produksi pirusahaan. Dengan demikian penurunan harga faktor; pro= duksi menyebabkafr pengurangan ke atas biaya produksi, dan ini selanjutn mendorong perusahaan mengurangi harga dari barang yang diproduksinva:~ Pengurangan harga tersebut akan menaikkan permintaan ke atas barang yang:,’ dihasilkan. Makin elastic permintaan barang tersebut, makin besar kenaikan permintaan yang disebabkan oleh penurunan harga. Sedangkan pertambahan yang besar ke atas permintaan selanjutnya akan menambah permintaan yang besar pula ke atas faktor produksi. Dengan demikian, makin besar elastisitas permintaan terhaclrap barang yang dihasilkan, makin besar­pula elastisitas permintaan terhadap faktor produksi.

PERBANDINGAN ANTARA BIA YA FAKTOR PRODUKSI DENGAN BIA YA TOTAL

Untuk mclihat bagaimana hal ini mempengaruhi elastisitas permintaan terhadap faktor produksi, perhatikanlah perbandingan dua keadaan berikut (i) di suatu perusahaan, sebanyak 50 persen:d, biaya produksi sesuatu barang terdiri dari pembayaran kepada sesuatu faktor produksi, dan (u’) di suatu perusahaan lain hanya sebanyak 10 persen dari biaya produksi digunakan untuk membayar faktor produksi yang sama. Permintaan ke atas faktor produksi dari perusahaan manakah yang lebih elastis?

Untuk memperolehi jawabannya akan diperhatikan akibat perubahan harga faktor produksi terhadap biaya produksi. Misalkan harga faktor produksi itu naik sebanyak 25 persen. Untuk perusahaan yang biaya produksinya seperti yang dinyatakan dalam (i) kenaikan tersebut menaikkan biaya produksinya sebanyak 12,5 persen. Tetapi un perusahaan yang biaya produksinya dinyatakan dalam (ii) kenaikan harga

faktor produksi.tersebut han,ya;.akan menaikkan biaya produksi sebanya persen. Oleh karena biaya prodoksi akan mempengaruhi harga, maka I barang yang dihasilkan perusahaati pertama akan mengalami kenaikan lebih tinggi dari harga barang yang m4asilkan oleh perusahaan kedua. Se akibatnya permintaan terhadap barank’ yahgddiproduksi perusahaan per mengalami penurunan yang lebih besar daripada permintaan terhadap b; yang diproduksi perusahaan kedua. Penurunan perminfaan°faktor proc seperti telah ditunjukkan sebelum ini, akan mengalami perubahan yang sifatnya dengan perubahan permintaan terhadap atas barang yang c1i kannya. Dari keadaan cii atas dapatlah disimpulkan: makin besar bagiai biaya produksi total yang dibajarkan kepada sesuatu faktor produksi, makin elastispermintaan faktorproduksi tersebut.

TINGKAT PENGGANTIAN DI ANTARA FAKTOR PRODUKSI

Untuk memproduksi sesuatu barang biasanya diperlukan beberapa faktor produksi, dan untuk mencapai suatu tingkat produksi ter terdapat beberapa gabungan faktor produksi yang dapat dipilih. And: diinginkan mencapai suatu tingkat produksi beras tertentu, sebagai co beberapa cara produksi dapat digunZkan, yaitu mengurangi tenaga kerj: menggunakan lebih banyak pupplt, dan sebagainya. Oleh karena ter kemungkinan untuk mengganf “sesuatu faktor produksi dengan f produksi lainnya, perubahan harga sesuatu faktor produksi menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap permintaannya. Al terdapat banyak faktor_, produksi lain yang dapat menggantika permintaan terhadap faktor produksi tersebut akan sangat menurun harganya naik,wjjan akan mengalami pertambahan yang banyak pada harganya menurun. Tetapi apabila tidak banyak faktor produksi lain dapat menggantikannya, kenaikan atau penurunan harga faktor pro tersebut tidak mengubah jumlah yang diminta. Maka secara umum dal dikatakan bahwa makin banyak faktor-faktor produksi lainnya dapat menggantikan ,`sesuatu faktor produksi, semakin el permintaan ke atas faktor produksi tersebut.


TINGKAT PENURUNAN PRODUKSI FISIK MARGINAL (MPP)


Dari uraian mengenai produksi fisik marginal (MPP) dan hasil penj produksi marginal (MRP) dan dari kurva MPP dan MRP yang ditunjt dalam Gambar 15.2 dan 15.3 telah dapat dilihat bahwa hasil penj produksi marginal sangat dipengaruhi oleh produksi fisik mar Penurunan yang cepat ke atas MPP akan diikuti oleh penurunan yang pula ke atas MRP. Sebaliknya apabila MPP mengalami penurunan lambat maka MRP juga lambat sifat penurunannya. Telahpun diterangkan


 


 


 


 


bahwa kurva MRP menggambarkan jugai permintaan terhadap faktor


produksi. Ini berarti ‘produksi fisik marginal sangat mempengaruhi permintaan ke atas faktor produksi, yaitu makin cepat penurunart produksi fisik inafginal, makin tidak elastis permintaan terhadap faktor produksi yatfg bersangkutan.



SYARAT PENGGUNAAN OPTIMUM FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI



Analisis yang terdahulu di dalam bab ini memisalkan bahwa perusahaan hanya menggunakan satu faktor produksi. Berdasarkan pemoalan tersebut kemudian digambarkan bagaimana perusahaan membuat keputusan di dalam menentukan_,.jumlah faktor produksi yang akan digunakan untuk memaksimumkan keuntungan.


Pemisalan ini adalah sangat berbeda dengan keadaan yang umumnya


wujud dalam legiatan perusahaan yang sebenarnya, karena dalam


memproduksikan barang-barangnya perusahaan biasanya secara serentak menggunakan beberapa faktor produksi. Maka untuk membuat gambaraji yang lebih mendekati kenyataan, selanjutnya perlulah dianalisis cara suatu perusahaan menentukan penggunian optimum dari beberapa faktor-_ produksi. Untuk n ebyederhanakan analisis, akan dimisalkan perusahaan menggunakan hanya dua faktor produksi. Analisis yang sama dapat digunakan untuk_menerangkan caranya perusahaan mencapai keadaan yang optimal di dalam menggunakan beberapa faktor produksi. Hal itu biasanya dilakukan dalam analisis yang lebih advanced.


Analisis yang akan dibuat ini mempunyai hubungan yang Brat dengan teori produksi dengan mmenggunakan dua faktor berubah yang diterangkan dalam bagian yang tetakhir_siari Bab Sembilan. Telah ditunjukkan bahwa di dalam menentukan penggunaan (optimum dari faktor-faktor produksi yang tersedia, ada dua persoalan yarig•dapat dianalisis, yaitu:


Untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu bagaimanakah


caranya meminimumkan biaya?


Bagaimanakah memaksimumkan produksi dengan menggunakan sejumlah biaya tertentu?)


Analisis yang hampir bersamaan sifatnya lderigam~kedua jenis analisis dalam Bab Sembilan, tetapi dengan cara pendekatan yart`g berbeda, akaa dibuat dalam uraian yang berikut.



GABUNGAN FAKTOR PRODUKSI YANG MEMINIMUMKAN BIAYA


 


Dua faktor produksi yang digunakan oleh sesuatu perusahaan adalah modal dan tenaga.kerja. Produksi fisik marginal dari modal adalah MPPc dan produksi fisik marginal dari tenaga kerja adalah MPPL. Untuk menunjukkan syarat untuk meminimumkan biaya, akan diperhatikan dua keadaan berikut:


i. Harga tenaga kerja dan modal adalah sama.


ii.Harga tenaga kerja dan modal berbeda.


 


Syarat Untuk Kasus Harga Faktor Yang Sama


Syarat tersebut adalah: masing-masing faktor produksi harus digunakan sehingga mencapai tingkat dimana MPPc =MPPL.. Artinya pada waktu MPPc > MPPL lebih banyak modal harus digunakan. Proses penggantian faktor produksi tersebut harus terus berlangsung sehingga keadaan MPPc = MPPC terwujud. Seb:aiknva, apabila MPPL > MPPC, lebih banyak tenaga kerja hares digunakan sehingga pada akhirnya tercapai keadaan di mana MPPc = MPPL.


 


Syarat Untuk Kasus Harga Faktor Berbeda


Adalah jarang sekali kita mendapati keadaan di mana harga faktor pr adalah bersamaan. Kalau harga faktor produksi berbeda, syarat dinyatakan di atas perlu disesuaikan. Sekarang bagaimanakah syarat mencapai peminimuman biayai jSyaraE itu dapat dirumuskan secara b penggunaan faktor-faktor produksi akan meminimumkan apabila setiap rupiah yang Y dibayarkan kepada faktor prc menghasilkan produksi marginal yang sama besarnya. Produk: marginal dari modal dan dari tenaga kerja untuk setiap rupiah adalah:



MPP per rupiah dari modal = MPPC


PC


MPP per rupiah dari tenaga kerja = MPPL


PL


 


Di mana Pc adalah harga per unit modal dan PL harga per unit tenaga kerja. Sesuai dengan syarat peminimuman biaya di atas, yaitu MPPc per harus sama dengan MPPL per rupiah, maka syarat peminimuman biaya dengan menggunakan dua faktor produksi yang berbeda harganya dapat dinyatakan secara persamaan berikut:


 


MPPC = MPPL


PC PL



Apabila MPPc/Pc adalah lebih besar dari MPPL/PL perusahaan perlu menambah penggunaan modal dan mengurangi penggunaaan tenag untuk meminimumkan biaya. Tetapi apabila MPPc/Pc adalah lebih dari MPPL/PL, biaya akan dimminimumkan apabila penggunaan modal dikurangi, dan penggunaan tenaga kerja ditambah.



GABUNGAN FAKTOR YANG MEMAKSIMUMKAN KEUNTUNGAN



Masih ingatkah anda syarat yang harus dicapai agar penggunaan sesuatu faktor produksi tertentu. menghasilkan keuntungan yang maksimum? Seperti telah diterangkan syaratnya adalah: harga faktor produksi harus sama dengan hasil penjualan produksi marginal (MPR). Dengan demikian kalau tenaga kerja yang digunakan, maka syarat untuk memaksimumkan keuntungan adalah:


PL = MRPL atau


 


MPPL = 1


PL



Dan kalau yang digunakan adalah modal, maka syarat untuk memaksimumkan keuntungan adalah:


 


Pc = MRPC atau



MPPC = 1­


PC



Karena MRPL/PL = 1dan MRPc/Pc = 1, maka dari kedua persamaan itu dapatlah disimpulkan bahwa untuk memaksimumkan keuntungan syarat yang harus dipenuhi adalah:



MPPC = MPPL = 1


PC PL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: